Pendidikan
anak dimulai dari memilih pasangan. Ketika menginginkan anak yang pinter, usahakan cari pasangan yang
pinter. Ketika menginginkan anak yang tampan, usahakan memilih pasangan yang
tampan, juga ketika menginginkan anak yang suka berorganisasi, maka usahakan
memilih pasangan yang suka berorganisasi. Karena berorganisasi merupakan
pengamalan dari Q.S Ali Imron: 104.
Agama
sebagai wahyu Allah subhanahu wa ta’ala harus diyakini sebagai kabar kebenaran
yang mutlak sebatas pemahaman manusia, yang menjadi komitmen manusia untuk mencari
kebenaran yang mutlak. Namun kemutlakannya tergantung pemahaman setiap manusia.
Tidak bisa dipaksakan, jika seorang penjual arang mengatakan kayu harus
dibakar, sedangkan yang lain mengatakan pembakaran kayu menyebabkan polusi,
maka tidak akan mendapatkan kebenaran yang mutlak. Sudut pandang kebenaran
mutlak tergantung sisi mana manusia memandang sesuai dengan kapasitas ilmu,
latar belakang kompetensi dan pengalaman yang dimiliki untuk memunculkan
ketauhidan dalam diri anak adalah dari orangtuanya.
“Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.
Salah satu cara untuk menghindarkan diri dan keluarga dari siksa api neraka
adalah melalui pendidikan. Kaum perempuan adalah pihak yang paling sabar dalam
mendidik anak. Perempuan-perempuan tidak malu untuk membawa janin kemanapun. Justru
menjadi sebuah kebanggaan saat perempuan bisa hamil karena diberikan amanah dan
kepercayaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
untuk meneruskan generasi yang InsyaAllah lebih baik dari saat ini, melalui pendidikan
akal, jasmani dan rohani.
Ibu
adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kaliamat pertama yang keluar dari
bibir ibu harusnya kalimat tauhid, ucapan-ucapan yang baik harus
diinspirasikan, dibiasakan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan-ucapan
yang baik menjadi tugas bersama keluarga untuk membentuk generasi yang unggul
dan berkarakter. Dimulai dari pembacaan kalimat “bismillahirrohmanirrohim” dalam setiap aktivitas untuk mengajarkan
kepada anak bahwa setiap aktivitas kita bergantung pada kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Dapat juga mengajarkan
anak melalui lagu-lagu yang ada doanya.
Tangan
kanan masuk baca bismillah
Tangan
kiri masuk baca bismillah
Semua
sudah masuk alhamdulillah
Lagu-lagu
seperti itu membuat anak merasa ingin tahu makna dari kalimat yang diucapkan. kenapa
harus mengucapkan bismillah, Alhamdulillah,
subhanallah, dan lain-lain.
Ringkasan K3NA bab Parenting, Pembicara Ibunda Hanik (Ketua PD Aisyiyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar