Sabtu, 09 September 2017

Membangun Komunikasi yang Baik

Parenting itu hal-hal praktis yang kita miliki saat menjadi orangtua. Ketika kita memberi makan anak, memberi baju anak merupakan bentukparenting. Namun saat ini istilah parenting sudah dikerucutkan menjadi pengasuhan dengan cara mendidik. Menjadi orangtua itu unik. Anak yang satu berbeda dengan anak yang lain. Penanganannya pun berbeda. Misalnya, masalah membatasi anak menonon televisi, mendisiplinkan anak dan mengajarkan apa saja kepada anak, juga mengajari makan anak untuk makan makanan yang bergizi meskipun anak menolak sudah termasuk parenting.
Untuk melakukan komunikasi yang baik dengan anak, orangtua harus hadir sepenuh hati dan sepenuh tubuh. Karena yang dibutuhkan anak dari orangtuanya adalah perkataannya didengarkan. Pada kenyataannya, banyak orangtua yang mendengarkan anaknya namun sambil melakukan aktivitas yang lain, mengalihkan pembicaraan atau tidak fokus pada anak. Padahal orangtua harus melakukan pola komunikasi yang empatik terhadap anak.
Anak memiliki PR, tidak dikerjakan. Atau anak main sampai telat makan sehingga anak sakit. Kebanyakan yang dilakukan orangtua adalah memarahi anaknya. Misalnya saja orangtua mengatakan “Sudah dibilangi harusnya tidak main sampai sore, sekarang sakit kan….” Atau “makanya punya PR dikerjakan…”, “harusnya begini...”, “harusnya tidak begitu…”. Tujuan orangtua ingin mendidik anak, mendisiplinkan anak, namun pemilihan kata yang seperti itu membuat anak blocking, tidak mau mendengarkan. Anak sudah merasakan dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR, sudah merasa bersalah masih saja dimarahi oleh orangtuanya. Anak merasa “sudah jatuh tertimpa tangga”. Hal tersebut membuat komunikasi anak dan orantua menjadi terputus.
Orangtua perlu memiliki keterampilan dalam memilih kata yang tepat, misalnya dengan merefleksikan pengalaman “Ibu dulu juga pernah seperti itu. Ibu merasa malu, menyesal dan tidak mengulanginya lagi”. Pemilihan kalimat yang seperti itu membuat anak lebih terbuka sehingga orangtua lebih mudah mengoreksi perilaku anak. Orangtua juga bisa menjadi sahabat bagi anak.
Contoh lainnya, ketika anak jatuh orangtua bisa berkata “Ibu itu khawatir, jika kamu jatuh ibu jadi sedih”. Kalimat seperti itu membuat anak merasa dipahami, diperhatikan. Anak akan berfikir kemarahan orangtua bukan karena orangtuanya benci, tapi karena orangtua khawatir. Anak merasa berharga dan dicintai sehingga anak akan berhati-hati.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak, namun keterlibatan ayah sangat diperlukan. Pengasuhan yang melibatkan Ayah membuat anak lebih percaya diri, terbuka terhadap pengalaman, tidak mudah menyerah dalam mengalami kegagalan dan lebih mudah bersosialisasi.
Pertemuan para orangtua adalah potensi untuk berbagi dan menggali ilmu, tapi terkadang ketika sharing mengenai kemajuan anak menjadikan orangtua kepada arah kompetisi (anakku belum bisa ini, merasa cemas. Anakku sudah bisa ini, jadi bangga). Mengasuh anak adalah tanggungjawab bersama. Apapun yang terjadi dalam keluarga, pasti dipengaruhi oleh keluarga lain.
Sekuat tenaga orangtua menjaga anak untuk berkata baik dan berkata jujur, namun saat disekolah bertemu dengan teman yang suka berkata bohong, atau berkata kasar kemungkinan akan terpapar. Sekuat tenaga seorang ayah tidak menggunakan kekerasan dalam mengatasi konflik di rumah, atau tidak menggunakan kekerasan saat menghukum anak, ketika anak keluar melihat ayah lain memukul temannya, anak bisa menjadi trauma. Sehingga sesama orangtua seharusnya tidak saling berkompetisi, tapi saling mengingatkan dan membangun hubungan yang baik. Sosialisasi yang baik antar orangtua menjadi contoh sosialisasi bagi anak-anaknya. Jangan penuh prasangka ketika bersosialisasi. Misalnya saja membandingkan asi lebih baik dari susu formula, atau Ibu yang tidak bekerja lebih baik dari ibu yang bekerja.

Pemateri Yunda Ardias Nugraheni  dalam K3NA dengan tema Prophetic Parenting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar