Parenting
itu hal-hal praktis yang kita miliki saat menjadi orangtua. Ketika kita memberi
makan anak, memberi baju anak merupakan bentukparenting. Namun saat ini istilah
parenting sudah dikerucutkan menjadi pengasuhan dengan cara mendidik. Menjadi
orangtua itu unik. Anak yang satu berbeda dengan anak yang lain. Penanganannya
pun berbeda. Misalnya, masalah membatasi anak menonon televisi, mendisiplinkan
anak dan mengajarkan apa saja kepada anak, juga mengajari makan anak untuk
makan makanan yang bergizi meskipun anak menolak sudah termasuk parenting.
Untuk
melakukan komunikasi yang baik dengan anak, orangtua harus hadir sepenuh hati
dan sepenuh tubuh. Karena yang dibutuhkan anak dari orangtuanya adalah
perkataannya didengarkan. Pada kenyataannya, banyak orangtua yang mendengarkan
anaknya namun sambil melakukan aktivitas yang lain, mengalihkan pembicaraan
atau tidak fokus pada anak. Padahal orangtua harus melakukan pola komunikasi
yang empatik terhadap anak.
Anak
memiliki PR, tidak dikerjakan. Atau anak main sampai telat makan sehingga anak
sakit. Kebanyakan yang dilakukan orangtua adalah memarahi anaknya. Misalnya
saja orangtua mengatakan “Sudah dibilangi harusnya tidak main sampai sore,
sekarang sakit kan….” Atau “makanya punya PR dikerjakan…”, “harusnya
begini...”, “harusnya tidak begitu…”. Tujuan orangtua ingin mendidik anak,
mendisiplinkan anak, namun pemilihan kata yang seperti itu membuat anak blocking,
tidak mau mendengarkan. Anak sudah merasakan dimarahi guru karena tidak
mengerjakan PR, sudah merasa bersalah masih saja dimarahi oleh orangtuanya.
Anak merasa “sudah jatuh tertimpa tangga”. Hal tersebut membuat komunikasi anak
dan orantua menjadi terputus.
Orangtua
perlu memiliki keterampilan dalam memilih kata yang tepat, misalnya dengan
merefleksikan pengalaman “Ibu dulu juga pernah seperti itu. Ibu merasa malu,
menyesal dan tidak mengulanginya lagi”. Pemilihan kalimat yang seperti itu
membuat anak lebih terbuka sehingga orangtua lebih mudah mengoreksi perilaku
anak. Orangtua juga bisa menjadi sahabat bagi anak.
Contoh
lainnya, ketika anak jatuh orangtua bisa berkata “Ibu itu khawatir, jika kamu
jatuh ibu jadi sedih”. Kalimat seperti itu membuat anak merasa dipahami,
diperhatikan. Anak akan berfikir kemarahan orangtua bukan karena orangtuanya
benci, tapi karena orangtua khawatir. Anak merasa berharga dan dicintai
sehingga anak akan berhati-hati.
Ibu
adalah madrasah pertama bagi anak, namun keterlibatan ayah sangat diperlukan.
Pengasuhan yang melibatkan Ayah membuat anak lebih percaya diri, terbuka
terhadap pengalaman, tidak mudah menyerah dalam mengalami kegagalan dan lebih
mudah bersosialisasi.
Pertemuan
para orangtua adalah potensi untuk berbagi dan menggali ilmu, tapi terkadang
ketika sharing mengenai kemajuan anak
menjadikan orangtua kepada arah kompetisi (anakku belum bisa ini, merasa cemas.
Anakku sudah bisa ini, jadi bangga). Mengasuh anak adalah tanggungjawab
bersama. Apapun yang terjadi dalam keluarga, pasti dipengaruhi oleh keluarga
lain.
Sekuat
tenaga orangtua menjaga anak untuk berkata baik dan berkata jujur, namun saat
disekolah bertemu dengan teman yang suka berkata bohong, atau berkata kasar
kemungkinan akan terpapar. Sekuat tenaga seorang ayah tidak menggunakan
kekerasan dalam mengatasi konflik di rumah, atau tidak menggunakan kekerasan
saat menghukum anak, ketika anak keluar melihat ayah lain memukul temannya,
anak bisa menjadi trauma. Sehingga sesama orangtua seharusnya tidak saling berkompetisi,
tapi saling mengingatkan dan membangun hubungan yang baik. Sosialisasi yang baik
antar orangtua menjadi contoh sosialisasi bagi anak-anaknya. Jangan penuh
prasangka ketika bersosialisasi. Misalnya saja membandingkan asi lebih baik
dari susu formula, atau Ibu yang tidak bekerja lebih baik dari ibu yang
bekerja.
Pemateri Yunda Ardias Nugraheni dalam K3NA dengan tema Prophetic Parenting
Tidak ada komentar:
Posting Komentar