Siapa sangka nulis nama “Mahardika”, baru sampai rangkaian “m-a-h-a-r-” aja udah baper. tapi yaa..
Bagaimana lagi jika memang tipe orang yang baperan.
Akhir-akhir ini banyak Undangan
Pernikahan bertebaran. Lalu Baper? Ah Enggak! tau diri kok. Semakin orang itu
dewasa, bukankah kebaperan harusnya berkurang? setidaknya bisa terkontrol
sehingga tidak terlalu kekanak-kanakan seperti sebelumnya.
Banyak type dari undangan yang
bertebaran. Mulai dari yang simple pake banget, simple elegan, warna-warni dan
ada yang cantik. Ada pula undangan syukuran yang dibagikan lewat media sosial
agar lebih mudah tersampaikan daripada undangan cetak. Gaya penyampaiannya juga
berbeda.
Undangan dengan menyematkan gelar
kependidikan saat ini sudah mulai biasa, dan wajar. Namun ada undangan unik
yang belum lama ini sampai pada perangkat saya. Undangan yang menyertakan jabatan/posisi yang telah diraih.
Secara sepintas mungkin nampak aneh.
Ketika dibaca berulang-ulang, sebenarnya mampu memotivasi bagi pembaca. Sudah
sampai mana perjuangannya? seperti apa sumbangsih di dalamnya? bagaimana
perannya dan apa yang kita bisa. Tentu saja bukan membandingkan diri dengan si
pengundang dalam hal sama, tapi membandingkan dengan potensi apa yang dimiliki
sehingga mampu dioptimalkan. Benar begitu?
Disisi lain, pasti ada yang
berpikiran “Ih, pamer jabatan”. Urusan hati,
apalagi isi hati orang lain tidak ada yang tau. Bisa jadi niat pengundang baik,
tapi cara pembaca kurang baik sehingga ada kesan tersendiri.
Pentingnya untuk memperhatikan niat
saat menyampaikan/menuliskan sesuatu. Semoga pengundang tidak bermaksud riya
dan atau ujub, dan semoga pembaca juga memiliki hati yang bersih untuk
menghindarkan diri dari rasa iri dan dengki.
"Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Setiap hal bisa diambil positifnya.
Jaga hati, ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar